Art in the age of machine intelligence | Refik Anadol

511,500 views

2020-08-19・ 15384    350


Visit http://TED.com to get our entire library of TED Talks, transcripts, translations, personalized talk recommendations and more. What does it look like inside the mind of a machine? Inspired by the architectural vision of a futuristic Los Angeles in "Blade Runner," media artist Refik Anadol melds art with artificial intelligence in his studio's collaborations with architects, data scientists, neuroscientists, musicians and more. Witness otherworldly installations that might make you rethink the future of tech and creativity. The TED Talks channel features the best talks and performances from the TED Conference, where the world's leading thinkers and doers give the talk of their lives in 18 minutes (or less). Look for talks on Technology, Entertainment and Design -- plus science, business, global issues, the arts and more. You're welcome to link to or embed these videos, forward them to others and share these ideas with people you know. For more information on using TED for commercial purposes (e.g. employee learning, in a film or online course), submit a Media Request here: http://media-requests.TED.com Follow TED on Twitter: http://twitter.com/TEDTalks Like TED on Facebook: http://facebook.com/TED Subscribe to our channel: http://youtube.com/TED

Instruction

Double-click on the English captions to play the video from there.

Translator: Fanni Leets Reviewer: Yolanda Raintina
00:12
Hi, I'm Refik. I'm a media artist.
Hai, saya Refik. Saya seorang seniman media.
00:15
I use data as a pigment
Saya menggunakan data sebagai pigmen
00:17
and paint with a thinking brush
dan melukis dengan kuas pikiran,
00:19
that is assisted by artificial intelligence.
yang dibantu oleh kecerdasan buatan.
00:23
Using architectural spaces as canvases,
Menggunakan ruang arsitektur sebagai kanvas,
00:25
I collaborate with machines
saya berkolaborasi dengan mesin
00:27
to make buildings dream and hallucinate.
untuk membangun mimpi dan halusinasi.
00:30
You may be wondering, what does all this mean?
Mungkin Anda bertanya-tanya, apa artinya semua ini?
00:33
So let me please take you into my work and my world.
Izinkan saya membawa Anda ke dalam karya dan dunia saya.
00:37
I witnessed the power of imagination when I was eight years old,
Saya melihat kekuatan imajinasi saat berusia delapan tahun,
00:41
as a child growing up in Istanbul.
ketika saya bertumbuh di Istanbul.
00:43
One day, my mom brought home a videocassette
Suatu hari, ibu saya membawa pulang sebuah kaset video film fiksi ilmiah,
00:47
of the science-fiction movie "Blade Runner."
"Blade Runner."
00:50
I clearly remember being mesmerized
Saya ingat betapa saya terpesona
oleh visi arsitektur yang menakjubkan tentang masa depan Los Angeles,
00:53
by the stunning architectural vision of the future of Los Angeles,
00:58
a place that I had never seen before.
tempat yang tidak pernah saya lihat sebelumnya.
01:00
That vision became a kind of a staple of my daydreams.
Setiap hari visi itu menjadi lamunan saya.
01:06
When I arrived in LA in 2012
Ketika saya tiba di LA pada tahun 2012
01:08
for a graduate program in Design Media Arts,
mengikuti program pascasarjana bidang Design Media Arts,
01:11
I rented a car and drove downtown
saya menyewa mobil dan menyetir ke pusat kota
01:13
to see that wonderful world of the near future.
untuk segera melihat dunia yang menakjubkan itu.
01:17
I remember a specific line
Saya ingat satu kalimat penting
01:19
that kept playing over and over in my head:
yang terus berulang di kepala saya:
01:22
the scene when the android Rachael
adegan ketika si android Rachael
01:24
realizes that her memories are actually not hers,
menyadari bahwa sebenarnya memorinya bukanlah miliknya,
01:28
and when Deckard tells her they are someone else's memories.
dan ketika Deckard memberi tahunya bahwa memorinya adalah memori orang lain.
01:32
Since that moment,
Sejak momen tersebut,
01:34
one of my inspirations has been this question.
salah satu inspirasi saya adalah
01:37
What can a machine do with someone else's memories?
apa yang dapat mesin lakukan dengan memori orang lain?
01:41
Or, to say that in another way,
Atau dengan kata lain,
01:44
what does it mean to be an AI in the 21st century?
apa artinya menjadi AI di abad ke-21?
01:49
Any android or AI machine
Android atau mesin AI apapun,
01:51
is only intelligent as long as we collaborate with it.
hanya menjadi cerdas ketika kita berkolaborasi dengannya.
01:55
It can construct things
Ia dapat membangun beragam hal yang ingin dihasilkan oleh kecerdasan manusia
01:56
that human intelligence intends to produce
02:00
but does not have the capacity to do so.
tapi tidak punya kapasitas untuk melakukannya.
02:03
Think about your activities and social networks, for example.
Misalnya, aktivitas dan jejaring sosial Anda.
02:07
They get smarter the more you interact with them.
Mereka semakin cerdas saat Anda berinteraksi dengannya.
02:10
If machines can learn or process memories,
Jika mesin dapat mempelajari atau memproses memori,
02:15
can they also dream?
dapatkah mereka juga bermimpi?
02:17
Hallucinate?
Berhalusinasi?
02:18
Involuntarily remember,
Tanpa sadar mengingat,
02:21
or make connections between multiple people's dreams?
atau membuat koneksi di antara mimpi banyak orang?
02:25
Does being an AI in the 21st century simply mean not forgetting anything?
Apakah menjadi AI di abad ke-21 artinya tidak melupakan apapun?
02:32
And, if so,
Jika ya,
02:33
isn't it the most revolutionary thing that we have experienced
bukankah itu adalah hal paling revolusioner yang pernah kita alami
02:37
in our centuries-long effort to capture history across media?
selama berabad-abad usaha manusia untuk mengabadikan sejarah di seluruh media?
02:43
In other words,
Dengan kata lain,
02:44
how far have we come since Ridley Scott's "Blade Runner"?
sejauh apa kita melangkah sejak "Blade Runner" Ridley Schott?
02:48
So I established my studio in 2014
Jadi saya mendirikan studio pada tahun 2014
02:52
and invited architects,
dan mengundang para arsitek,
02:54
computer and data scientists, neuroscientists,
ilmuwan komputer dan data, ahli saraf,
02:56
musicians and even storytellers
musisi dan bahkan pendongeng
02:59
to join me in realizing my dreams.
untuk bergabung mewujudkan mimpi-mimpi saya.
03:03
Can data become a pigment?
Dapatkah data menjadi pigmen?
03:05
This was the very first question we asked
Itulah pertanyaan pertama yang kami ajukan
03:08
when starting our journey to embed media arts into architecture,
ketika kami mulai menanamkan seni media ke dalam arsitektur,
03:13
to collide virtual and physical worlds.
yang menabrak dunia virtual dan fisik.
03:16
So we began to imagine what I would call the poetics of data.
Jadi kami mulai membayangkan apa yang disebut puisi data.
03:22
One of our first projects, "Virtual Depictions,"
Salah satu proyek pertama kami, "Virtual Depictions,"
03:24
was a public data sculpture piece
sebuah karya pahat data publik
03:26
commissioned by the city of San Francisco.
yang dipesan oleh Kota San Fransisco.
03:29
The work invites the audience
Karya ini mengundang audiens
03:31
to be part of a spectacular aesthetic experience
untuk menjadi bagian dari sebuah pengalaman estetika spektakuler
03:35
in a living urban space
dalam ruang perkotaan yang hidup
03:36
by depicting a fluid network of connections of the city itself.
dengan menggambarkan jaringan koneksi yang mengalir dari kota itu sendiri.
03:42
It also stands as a reminder
Karya itu juga mengingatkan kita
bagaimana data yang tidak terlihat dalam kehidupan kita sehari-hari,
03:45
of how invisible data from our everyday lives,
03:48
like the Twitter feeds that are represented here,
seperti umpan Twitter yang ditampilkan di sini,
03:51
can be made visible
dapat dibuat terlihat
03:53
and transformed into sensory knowledge that can be experienced collectively.
dan diubah menjadi pengetahuan sensorik yang dapat dialami secara kolektif.
04:00
In fact, data can only become knowledge when it's experienced,
Faktanya, data hanya bisa menjadi pengetahuan
ketika data itu kita alami,
04:05
and what is knowledge and experience can take many forms.
pengetahuan dan pengalaman itu bisa memiliki banyak bentuk.
04:09
When exploring such connections
Saat menjelajahi koneksi semacam ini
04:11
through the vast potential of machine intelligence,
melalui potensi kecerdasan mesin yang sangat besar,
04:15
we also pondered the connection between human senses
kami juga bertanya-tanya hubungan antara indera manusia dan kapasitas mesin
04:21
and the machines' capacity for simulating nature.
untuk mensimulasikan alam.
04:24
These inquiries began while working on wind-data paintings.
Pertanyaan-pertanyaan ini muncul ketika melukiskan data angin.
04:29
They took the shape of visualized poems
Mereka mengambil bentuk puisi yang divisualisasikan
04:32
based on hidden data sets that we collected from wind sensors.
berdasarkan kumpulan data tersembunyi yang kami peroleh dari sensor angin.
04:37
We then used generative algorithms
Lalu kami menggunakan algoritme generatif
04:40
to transform wind speed, gust and direction
untuk mengubah kecepatan, hembusan dan arah angin
04:44
into an ethereal data pigment.
menjadi pigmen data yang sangat halus.
04:48
The result was a meditative yet speculative experience.
Hasilnya adalah pengalaman yang meditatif namun spekulatif.
04:53
This kinetic data sculpture, titled "Bosphorus,"
Pahatan data kinetik yang berjudul "Bosphorus,"
04:56
was a similar attempt to question our capacity to reimagine
adalah usaha mempertanyakan kapasitas kita dalam menata ulang kejadian-kejadian alam.
05:00
natural occurrences.
05:03
Using high-frequency radar collections of the Marmara Sea,
Dengan menggunakan kumpulan radar frekuensi tinggi Laut Marmara,
05:07
we collected sea-surface data
kami mengumpulkan data permukaan laut
05:10
and projected its dynamic movement with machine intelligence.
dan memproyeksikan gerakan dinamisnya dengan kecerdasan mesin.
05:13
We create a sense of immersion
Kami menciptakan suatu rasa terbenam
05:15
in a calm yet constantly changing synthetic sea view.
dalam pemandangan laut sintetis yang tenang namun terus berubah.
05:21
Seeing with the brain is often called imagination,
Melihat dengan otak yang sering disebut imajinasi.
05:25
and, for me, imagining architecture
Dan bagi saya mengimajinasikan arsitektur
05:27
goes beyond just glass, metal or concrete,
lebih dari sekadar kaca, metal atau beton,
05:31
instead experimenting with the furthermost possibilities of immersion
atau pun bereksperimen dengan keterlibatan yang terjauh,
05:36
and ways of augmenting our perception in built environments.
dan cara meningkatkan persepsi kita dalam lingkungan buatan manusia.
05:40
Research in artificial intelligence is growing every day,
Penelitian kecerdasan buatan yang terus berkembang setiap harinya,
05:44
leaving us with the feeling of being plugged into a system
membuat manusia merasa dicolokkan ke dalam suatu sistem
05:48
that is bigger and more knowledgeable
yang lebih besar dan berpengetahuan daripada diri kita sendiri.
05:50
than ourselves.
05:51
In 2017, we discovered an open-source library
Pada tahun 2017, kami menemukan sebuah perpustakaan sumber terbuka
05:55
of cultural documents in Istanbul
berisi dokumen-dokumen budaya di Istanbul
05:58
and began working on "Archive Dreaming,"
dan kami mulai mengerjakan "Archive Dreaming,"
06:01
one of the first AI-driven public installations in the world,
salah satu instalasi publik berbasis AI pertama di dunia,
06:06
an AI exploring approximately 1.7 million documents that span 270 years.
sebuah AI yang mengeksplorasi sekitar 1,7 juta dokumen dalam rentang 270 tahun.
06:13
One of our inspirations during this process
Salah satu inspirasi kami selama proses ini
06:16
was a short story called "The Library of Babel"
yaitu cerita pendek berjudul "The Library of Babel"
06:20
by the Argentine writer Jorge Luis Borges.
karya seorang penulis Argentina, Jorge Luis Borges.
06:23
In the story, the author conceives a universe in the form of a vast library
Dalam cerita itu, penulis meletakkan alam semesta dalam bentuk perpustakan luas
06:29
containing all possible 410-page books of a certain format and character set.
yang berisikan buku 410 halaman dengan format dan karakter tertentu.
06:35
Through this inspiring image,
Melalui inspirasi ini,
06:36
we imagine a way to physically explore the vast archives of knowledge
kami mengimajinasikan cara menjelajahi seluruh arsip pengetahuan secara fisik
06:41
in the age of machine intelligence.
di era kecerdasan mesin.
06:43
The resulting work, as you can see,
Hasilnya, seperti yang dapat dilihat,
06:45
was a user-driven immersive space.
suatu ruang imersif yang digerakkan oleh pengguna.
06:48
"Archive Dreaming" profoundly transformed the experience of a library
"Archive Dreaming" secara mendalam mengubah pengalaman perpustakaan
06:53
in the age of machine intelligence.
di era kecerdasan mesin.
06:56
"Machine Hallucination" is an exploration of time and space
"Machine Hallucination" adalah eksplorasi ruang dan waktu
07:00
experienced through New York City's public photographic archives.
yang dialami melalui arsip foto publik Kota New York.
07:04
For this one-of-a-kind immersive project,
Untuk satu-satunya proyek imersif seperti ini,
07:07
we deployed machine-learning algorithms
kami menerapkan algoritma pembelajaran mesin
07:10
to find and process over 100 million photographs of the city.
untuk menemukan dan memproses lebih dari 100 juta foto kota itu.
07:15
We designed an innovative narrative system
Kami merancang sistem naratif yang inovatif,
dengan menggunakan kecerdasan buatan
07:18
to use artificial intelligence to predict or to hallucinate new images,
untuk memprediksi atau menghalusinasikan gambar baru,
07:24
allowing the viewer to step into a dreamlike fusion
yang memungkinkan penonton untuk mengalami perpaduan seperti mimpi
07:28
of past and future New York.
antara New York masa lampau dan masa depan.
07:31
As our projects delve deeper
Saat proyek kami
07:33
into remembering and transmitting knowledge,
mengingat dan mentransmisikan pengetahuan lebih dalam,
07:37
we thought more about how memories were not static recollections
kami memikirkan tentang memori tidak bersifat statis,
07:42
but ever-changing interpretations of past events.
tetapi interpretasi yang terus berubah dari kejadian lampau.
07:46
We pondered how machines
Kami memikirkan bagaimana mesin dapat mensimulasikan
07:48
could simulate unconscious and subconscious events,
kejadian yang disadari dan di alam bawah sadar
07:52
such as dreaming, remembering and hallucinating.
seperti bermimpi, mengingat dan berhalusinasi.
07:57
Thus, we created "Melting Memories"
Maka, kami menciptakan "Melting Memories"
08:00
to visualize the moment of remembering.
untuk menvisualisasikan momen mengingat.
08:03
The inspiration came from a tragic event,
Inspirasinya berasal dari sebuah kejadian tragis,
08:06
when I found out that my uncle was diagnosed with Alzheimer's.
ketika saya mengetahui paman saya didiagnosis penyakit Alzheimer.
08:11
At that time, all I could think about
Pada saat itu, yang saya pikirkan adalah
08:14
was to find a way to celebrate how and what we remember
menemukan cara untuk membangkitkan bagaimana dan apa yang kita ingat
08:19
when we are still able to do so.
ketika kita masih mampu melakukannya.
08:21
I began to think of memories not as disappearing
Saya berpikir bahwa memori tidaklah menghilang
08:25
but as melting or changing shape.
melainkan meleleh atau berubah bentuk.
08:28
With the help of machine intelligence,
Dengan bantuan kecerdasan mesin,
08:30
we worked with the scientists at the Neuroscape Laboratory
kami bekerja sama denga para ilmuwan di Laboratorium Neuroscape,
08:33
at the University of California,
di Universitas California,
08:35
who showed us how to understand brain signals as memories are made.
dan mereka menunjukkan cara sinyal otak dalam membuat memori.
08:41
Although my own uncle was losing the ability to process memories,
Meskipun paman saya kehilangan kemampuan memproses memori,
08:46
the artwork generated by EEG data
karya seni yang dihasilkan oleh data EEG
08:49
explored the materiality of remembering
mengeksplorasi kapasitas mengingat
08:53
and stood as a tribute to what my uncle had lost.
dan hadir sebagai penghormatan atas hilangnya memori paman saya.
09:00
Almost nothing about contemporary LA
Hampir tidak ada bagian dari LA modern
09:03
matched my childhood expectation of the city,
yang sesuai dengan harapan masa kecil saya tentang kota itu,
09:07
with the exception of one amazing building:
kecuali satu bangunan yang luar biasa ini:
09:10
the Walt Disney Concert Hall, designed by Frank Gehry,
Walt Disney Concert Hall, yang dirancang oleh Frank Gehry,
09:13
one of my all-time heroes.
salah satu pahlawan saya.
09:16
In 2018, I had a call from the LA Philharmonic
Pada tahun 2018, saya mendapat panggilan dari LA Philharmonic
09:19
who was looking for an installation
yang sedang mencari sebuah instalasi
09:21
to help mark the celebrated symphony's hundred-year anniversary.
untuk membantu perayaan ulang tahun ke-100 simfoni tersebut.
09:25
For this, we decided to ask the question,
Untuk tugas ini, kami mengajukan pertanyaan,
09:29
"Can a building learn? Can it dream?"
"Dapatkah bangunan belajar? Dapatkah bangunan bermimpi?"
09:32
To answer this question,
Untuk menjawabnya,
09:33
we decided to collect everything recorded in the archives of the LA Phil and WDCH.
kami mengumpulkan semua arsip LA Phil dan WDCH.
09:39
To be precise, 77 terabytes of digitally archived memories.
Persisnya, 77 tera bita memori yang diarsipkan secara digital.
09:44
By using machine intelligence,
Dengan menggunakan kecerdasan mesin,
09:46
the entire archive, going back 100 years,
seluruh arsip selama 100 tahun itu,
09:50
became projections on the building's skin,
menjadi proyeksi lapisan luar bangunan,
09:53
42 projectors to achieve this futuristic public experience
dengan menggunakan 42 proyektor untuk mencapai pengalaman futuristik
09:57
in the heart of Los Angeles,
di jantung kota Los Angeles,
09:59
getting one step closer to the LA of "Blade Runner."
selangkah lebih dekat dengan kota LA dalam "Blade Runner."
10:04
If ever a building could dream,
Jika sebuah bangunan dapat bermimpi,
10:06
it was in this moment.
inilah momennya.
10:11
Now, I am inviting you to one last journey into the mind of a machine.
Sekarang saya undang Anda untuk mengikuti perjalanan terakhir dalam benak mesin.
10:17
Right now, we are fully immersed in the data universe
Kini, kita benar-benar menyelam dalam dunia data
10:21
of every single curated TED Talk from the past 30 years.
dari setiap Ted Talk yang diabadikan dalam 30 tahun terakhir ini.
10:25
That means this data set includes 7,705 talks from the TED stage.
Artinya tiap perangkat data berisi 7.705 ceramah dari panggung TED ini.
10:33
Those talks have been translated into 7.4 million seconds,
Ceramah tersebut telah diterjemahkan ke dalam 7,4 juta detik,
10:37
and each second is represented here in this data universe.
dan tiap detiknya ditampilkan dalam data semesta ini.
10:41
Every image that you are seeing in here
Setiap gambar yang Anda lihat di sini
10:43
represents unique moments from those talks.
mewakili momen unik dari semua ceramah tersebut.
10:46
By using machine intelligence,
Dengan menggunakan kecerdasan mesin,
10:48
we processed a total of 487,000 sentences
kami memproses 487.000 kalimat
10:53
into 330 unique clusters of topics like nature, global emissions,
menjadi 330 kelompok topik unik seperti alam, emisi global,
10:57
extinction, race issues, computation,
kepunahan, masalah ras, komputasi,
11:00
trust, emotions, water and refugees.
kepercayaan, emosi, air, dan pengungsi.
11:04
These clusters are then connected to each other
Kelompok-kelompok ini kemudian dihubungkan satu sama lain
11:07
by an algorithm,
dengan suatu algoritma,
11:08
[that] generated 113 million line segments,
yang menghasilkan 113 juta segmen baris,
11:12
which reveal new conceptual relationships.
dan menghasilkan hubungan konseptual yang baru.
11:15
Wouldn't it be amazing to be able to remember
Bukankah sangat luar biasa jika kita dapat mengingat
11:18
all the questions that have ever been asked on the stage?
semua pertanyaan yang pernah diajukan di panggung ini?
11:23
Here I am,
Di sinilah saya,
11:24
inside the mind of countless great thinkers,
di benak para pemikir besar yang tidak terhitung jumlahnya,
11:27
as well as a machine, interacting with various feelings
beserta mesin yang berinteraksi dengan beragam perasaan
11:31
attributed to learning,
yang dikaitkan dengan belajar,
11:33
remembering, questioning
mengingat, bertanya,
11:36
and imagining all at the same time,
dan mengimajinasikan semuanya pada waktu yang bersamaan,
11:39
expanding the power of the mind.
memperluas kekuatan pikiran.
11:43
For me, being right here
Bagi saya, berada di sini
11:45
is indeed what it means to be an AI in the 21st century.
berarti menjadi AI di abad ke-21.
11:50
It is in our hands, humans,
Di tangan kitalah, manusia,
11:52
to train this mind to learn and remember
yang dapat melatih kecerdasan ini untuk belajar dan mengingat
11:56
what we can only dream of.
apa yang dapat kita impikan.
11:59
Thank you.
Terima kasih.
About this site

This site was created for the purpose of learning English through video.

Each video can be played with simultaneous captions in English and your native language.

Double-click on the English captions will play the video from there.

If you have any comments or suggestions, please contact us using this contact form.